Kota Tasikmalaya Suara Rakyat Indonesia.com, – Kondisi lahan sawah produktif yang terletak di Jalan Letjen H. Mashudi, Gunung Ranji, Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, saat ini tengah menjadi sorotan publik. Areal pertanian yang seharusnya menjadi sumber penghidupan justru tergenang air secara ekstrem, menyerupai danau buatan (Situ), sehingga potensi agrarisnya lumpuh total dan tidak dapat dimanfaatkan untuk budidaya padi.

Berdasarkan analisis sementara, permasalahan hidrologis ini diduga kuat bersumber dari tersumbatnya atau tertutupnya sistem drainase di sekitar bangunan, yang mengakibatkan gangguan aliran air secara signifikan.
Sukiman, perwakilan warga setempat, menyampaikan pandangan yang konstruktif terkait fenomena ini. Menurutnya, penanganan yang parsial tidak akan menyelesaikan masalah. Diperlukan kebijakan tegas dari pemangku kebijakan untuk menentukan arah masa depan lahan tersebut.
“Apabila kondisi stagnan ini terus berlanjut tanpa solusi yang nyata, sebaiknya pemerintah mengambil langkah strategis. Baik melalui perbaikan infrastruktur yang komprehensif maupun pertimbangan untuk alih fungsi menjadi area wisata pemancingan, asalkan dilakukan melalui komunikasi dan musyawarah yang baik dengan para pemilik lahan,” ungkap Sukiman, Minggu (03/05).
Namun, di tengah usulan tersebut, aspek keselamatan dan tata ruang tidak boleh diabaikan. Lokasi yang berada tepat di koridor jalan raya utama ini memiliki keterbatasan lahan untuk area parkir. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat potensi kerawanan lalu lintas jika area tersebut ramai dikunjungi masyarakat.
“Kekhawatiran kami, lokasi ini berada di pinggir jalan raya tanpa fasilitas parkir yang memadai. Jika dibiarkan begitu saja, dikhawatirkan akan menimbulkan potensi bahaya dan gangguan kelancaran arus lalu lintas,” tambahnya.
Fenomena visual yang terjadi saat ini bahkan telah memberikan persepsi baru bagi masyarakat yang melintas. Banyak yang mengira bahwa hamparan air tersebut merupakan destinasi pemancingan yang baru diresmikan. Respons serupa juga terdengar dari kalangan warga sekitar yang menilai, jika perbaikan sistem drainase dinilai sulit terealisasi dalam waktu dekat, maka pemanfaatan sebagai area rekreasi memancing adalah alternatif yang paling rasional dan bernilai ekonomis.
Ungkapan kearifan lokal tersebut seakan menjadi simbol harapan, bahwa di tengah kesulitan dan masalah yang ada, semoga selalu ada jalan keluar terbaik yang membawa berkah, solusi, dan kemaslahatan bagi seluruh pihak, sebagaimana harapan baik yang selalu datang menghampiri.
Joy

