Tasikmalaya, 12 April 2026 beritasuararakyatIndonesia. Com
Di balik indahnya Kawah Gunung Galunggung yang menjadi ikon wisata Tasikmalaya, tersimpan masalah serius. Destinasi ini kini tengah diterpa isu kerusakan lingkungan yang parah dan dinilai kurang tertata.
Masalah di Lapangan
Kondisi kawasan yang seharusnya terjaga justru memprihatinkan. Terlihat jelas bukit-bukit yang mulai gundul akibat penebangan liar dan perambahan. Aktivitas ternak liar juga merusak struktur tanah, memicu erosi dan potensi longsor yang membahayakan keselamatan pengunjung. Belum lagi tumpukan sampah dan infrastruktur jalan yang rusak sejak pintu masuk.
Ironisnya, meski wewenang sudah jelas dibagi—wilayah hutan di bawah KPH Perhutani dan pengelolaan wisata oleh PT Palawi Risorsis—penanganan di lapangan dinilai masih “nol besar”.
Suara Masyarakat: “Ini Soal Nyawa”
Totoy, tokoh muda setempat yang akrab disapa Eyang Prabu, menyoroti kelalaian pihak terkait. Menurutnya, penebangan kayu tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, tapi sudah diperjualbelikan tanpa ada tindakan tegas.
“Ini bukan soal estetika, tapi soal nyawa. Tanah sudah labil, kalau hujan deras bisa longsor dan menimpa wisatawan. Jangan cuma pandai klaim wisata maju, tapi realitanya rusak parah. Kinerja mereka harus dievaluasi segera,” tegas Totoy.
Mengahiri pembicaraan nya totoy menekankan
Bahwa pembagian wewenang tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bertindak.
evaluasi secara menyeluruh dan tindakan tegas harus di jalankan
Jawaban Pihak Pengelola: Butuh Sinergi dan Pendekatan Humanis
Menanggapi kritik tersebut, Dudung Suhaeri selaku Manager Klaster Wisata Priangan mengaku menerima masukan tersebut sebagai kritik membangun.
Pihak pengelola menegaskan telah berkomitmen menjalankan standar nasional seperti SNI PPA dan CHSE demi menjaga kebersihan, kesehatan, dan keselamatan. Namun, mereka mengakui adanya tantangan sosial di lapangan.
“Regulasi sudah kami jalankan, tapi kita juga hadapi realitas warga yang masih mengambil kayu bakar. Jika ditindak keras secara hukum, bagaimana nasib putra daerah? Penyelesaiannya harus komprehensif dan butuh peran aktif desa serta masyarakat,” jelas Dudung.
Hingga kini, harapan besar tertuju pada adanya perbaikan nyata agar Galunggung tetap lestari dan aman bagi semua.
Lebih lanjut, Dudung menegaskan bahwa pihaknya sejalan dan mendukung penuh program Pemkab Tasikmalaya. Menurutnya, pengembangan wisata tidak hanya soal keindahan alam, tapi juga harus mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan kualitas pengalaman bagi wisatawan.
“Pengalaman yang baik akan meninggalkan kesan positif, sehingga pengunjung mau merekomendasikan tempat ini ke orang lain. Ini yang akan mendorong kunjungan terus meningkat,” ujarnya.
Dudung juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memiliki rasa memiliki terhadap kawasan ini. Ia menekankan bahwa menjaga kelestarian alam, mencegah penggembalaan liar, dan merawat ekosistem bukan hanya tugas pengelola saja , melainkan tanggung jawab bersama.
“Menjaga kawasan ini bukan tugas kami semata. Pemerintah, tokoh masyarakat, pelaku usaha, media, dan warga sekitar harus saling bersinergi dan berperan aktif,” tegasnya.
Ia menambahkan, sehebat apapun sistem dan standar yang diterapkan, tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan semua pihak. Kolaborasi yang kuat dinilai menjadi kunci agar Galunggung tetap lestari, aman, dan mampu mensejahterakan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.** Wahid MA)

