Rabu, Juli 1, 2026
BerandaPendidikanZonasi Sebagai Sistem Telah Memunculkan Beberapa Victim

Zonasi Sebagai Sistem Telah Memunculkan Beberapa Victim

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (1)
Oleh Hadirwan,S.Pd Staf Redaksi Berita Suara Rakyat Indonesia

Beritasuarsrakyatindonesia.com Bandung – Sejatinya zonasi sebagai suatu sistem merupakan keseluruhan dari berbagai unsur, antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya saling berinterrelasi, saling berinteraksi, dan saling interdependensi, yang berlangsung dalam suatu proses berdasarkan aturan dan tujuan yang telah ditetapkan.

Seandainya saja zonasi itu secara definitif dan normatif oleh semua pihak terlaksana sebagaimana mestinya, dapat diharapkan bahwa zonasi itu berdaya dan berhasil guna.

Akan tetapi itu tidak cukup bisa dijamin kepastiannya bahwa zonasi itu handal sebagai suatu sistem kalau unsur sumber daya manusia yang ada di belakangnya tidak committed dengan unsur-unsur lainnya, sehingga tidak konsisten dan tidak konsekuen menerapkannya.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (2)

Dengan maksud pokok agar dapat menyiasati persoalan lalu lintas dan efisiensi, dan dengan tujuan untuk memberikan (kesan) rasa adil bagi anak yang ingin bersekolah di sekolah (favorite) yang tidak jauh dari rumahnya.

Meskipun maksudnya baik dan normatif, akan tetapi tujuan yang ingin dicapai tersebut sudah jauh hari disadari akan menimbulkan atau menyisakan dilema, bahwa pendidikan dalam prosesnya ingin membangun kualitas, tapi pendidikan dalam kebijakannya ingin membaurkan kuantitas ke dalam kualitas.

Kemuliaan dalam kebijakan untuk membagi kesempatan bagi anak untuk bersekolah di dekat rumahnya, meskipun prestasi yang diraihnya dari jenjang sekolah sebelumnya tidak qualified dengan persyaratan untuk diterima di sekolah favorite tersebut.

Tapi itu adalah satu kebijakan strategis, meski pada akhirnya dalam pelaksanaannya, zonasi sebagai sistem sudah menjadi kenyataan rancu dalam dunia pendidikan.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (3)

Semoga kiranya kerancuan dalam SPMB (entah apalah namanya) tidak berubah menjadi racun, terutama bagi semangat belajar anak.

Akan tetapi tidak kurang-kurangnya, bahkan setiap awal tahun kerancuan itu semakin jelas telah membisikkan issue kepada masyarakat bahwa sistem
zonasi merupakan istilah kosmetikal untuk sistem donasi.

Satu dekade sistem zonasi tidak disadari dan hampir tidak terasa sudah menjadi kubangan “dekadensi moral”
dalam dunia pendidikan kita.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (4)

Selain dilema yang dihadapi dalam mengambil kebijakan zonasi, dunia pendidikan juga telah secara vulgar mempertontonkan ironi ujung tombak pendidikan.

Guru yang semestinya menjaga wibawa pendidikan, tapi tidak sedikit oknum guru yang diam dan tidak memberontak atas kerancuan SPMB dan keracunan semangat belajar anak atas berlakunya sistem zonasi.

Bahkan tidak sedikit juga berita burung bahwa panitia SPMB yang notabene adalah guru, entah atas ijin siapa gerangan, setelah gelombang pertama ditutup, akan dilanjutkan dengan gelombang kedua, dan begitu seterusnya (katanya) sampai ada gelombang yang ketiga segala.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (5)

Sudah menjadi rahasia umum dan lagu klasik yang sumbang terdengar bahwa si orang tua si anu dan si orang tua si anu ternyata di kemudian hari berhasil mendaftarkan anaknya di sekolah favorite pada saat gelombang berikut dibuka.

Entah disadari atau tidak, tapi justeru sebaliknya si orang tua si anu itu merasa puas telah mengikuti skema gelombang berikut dan diikuti oleh si orang tua si anu yang lainnya.

Sementara beberapa anak yang prestasi akademik dan non akademiknya cukup persyaratan, tapi jarak rumah dan sekolah berada di luar radius zonasi terpaksa menerima nasib sebagai korban kesia-siaan
Sistem zonasi yang ternyata tidak berpihak kepada anak yang berhak, apalagi kepada anak kaum dhuafa yang penuh mimpi dan derita.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (6)

Tidak jauh dari pelik- peliknya persoalan sistem d(z)onasi ini, dan di tengah cuaca panas dunia pendidikan, tiba2 di dunia maya muncul sebuah video sosok seorang guru, yang dengan lantang mempublikasikan hasil survey lapangan atas data pendaftaran SPMB smpn di kota bandung.

Ternyata kebanyakan zonasi rekayasa, dengan domisili yang boleh dibilang bahwa untuk mengikuti sistem zonasi, anak-anak mengalami mutasi kependudukan secara besar-besaran menuju zona (radius tertentu) sekolah favorite.

Sosok guru di video tersebut atas nama Rahmat Abdillah.
ternyata wajahnya sering terlihat lewat di depan rumah kami setiap saat ke mesjid ibnusina.
H.RAHMAT ABDILLAH,M.Pd.
begitu namanya, warga RT06RW13
Desa Jatiendah, yang kebetulan adalah bendahara dkm Ibnusina.

zonasi sebagai sistem telah memunculkan victim (7)

Tidak lain tidak bukan, meski muak dengan dampak sistem zonasi, kiranya berharap agar sistem zonasi dibenahi, terutama sumber daya manusia, dalam hal ini pihak panitia (guru) SPMB sekolah.

Begitupun dengan mentalitas instan si orang tua si anu agar sadar diri bahwa sepak terjangnya yang sembrono itu telah membuat nasib dan masa depan anaknya tidak berkah.

Sekali lagi dihimbau agar “satu dekade sistem d(z)onasi ini tidak lagi dilanjutkan dengan praktik-praktik
dekadensi moral”
yang semakin meyuramkan nasib anak bangsa ini.

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments