Rabu, Agustus 5, 2026
BerandaNasionalMenko Muhaimin: Transformasi Pesantren Dimulai dari Sanitasi yang Layak

Menko Muhaimin: Transformasi Pesantren Dimulai dari Sanitasi yang Layak

Beritasuararakyatindonesia.com Cianjur – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar meluncurkan sekaligus melakukan groundbreaking pembangunan 10.000 kamar MCK di pondok pesantren se-Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas hidup santri dan mendorong transformasi pesantren yang lebih sehat, produktif, dan berdaya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (04/08/2026).

Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Musri merupakan salah satu dari 11 pesantren prioritas dalam Program Revitalisasi Pesantren yang didorong pemerintah. Penetapan tersebut merupakan hasil penyaringan bertahap dari audit terhadap 100 pesantren, kemudian diprioritaskan menjadi 80 pesantren, hingga akhirnya ditetapkan 11 pesantren sebagai lokasi prioritas revitalisasi.

Menurut Menko Muhaimin, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara mengenai peningkatan ekonomi, tetapi juga dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar yang layak. Pesantren sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan pemberdayaan umat harus didukung oleh infrastruktur dasar yang memadai, termasuk akses sanitasi yang sehat.

“Transformasi pesantren harus dimulai dari hal-hal yang paling mendasar. Santri tidak cukup hanya memperoleh pendidikan yang baik, tetapi juga harus hidup di lingkungan yang sehat, bersih, dan bermartabat. Sanitasi yang layak adalah fondasi bagi lahirnya generasi yang sehat, produktif, dan siap berkontribusi bagi bangsa,” ujar Menko Muhaimin.

Program pembangunan 10.000 kamar MCK ini merupakan tindak lanjut atas hasil audit Kementerian Pekerjaan Umum yang mencakup 80 pondok pesantren di 9 provinsi dan 54 kabupaten/kota. Dari total 2.093 bangunan, sebanyak 1.634 bangunan telah diperiksa dengan fokus pada aspek bangunan, penyediaan air minum, dan sistem sanitasi.

Hasil audit menunjukkan bahwa 97,5 persen bangunan belum memenuhi standar penyediaan air minum, sementara belum ada satu pun bangunan yang memenuhi standar pengelolaan air limbah domestik. Selain itu, fasilitas MCK di banyak pesantren masih belum memadai, baik dari sisi jumlah maupun kondisi fisiknya. Sistem sanitasi, termasuk tangki septik, juga masih banyak yang belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

Audit tersebut mengidentifikasi tiga persoalan utama yang menjadi perhatian pemerintah, yakni rendahnya kualitas sanitasi, keterbatasan fasilitas MCK dibandingkan jumlah santri, serta lemahnya pemeliharaan sarana dan prasarana. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan santri sekaligus menghambat terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Menko Muhaimin menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena sanitasi yang buruk bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia. Lingkungan yang sehat menjadi prasyarat agar proses pendidikan, pembinaan karakter, dan berbagai program pemberdayaan di pesantren dapat berjalan secara optimal.

Ia menegaskan, pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Selain menjadi lembaga pendidikan keagamaan, pesantren juga menjadi pusat pengembangan ekonomi kerakyatan, kewirausahaan, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.

“Karena itu, membangun pesantren bukan hanya membangun gedungnya, tetapi membangun kualitas manusianya. Ketika santri sehat, proses belajar berjalan baik, produktivitas meningkat, dan pesantren akan semakin optimal menjalankan perannya sebagai pusat pemberdayaan masyarakat,” kata Menko Muhaimin.

Melalui pembangunan 10.000 kamar MCK, pemerintah tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga mendorong penerapan sistem sanitasi yang memenuhi standar, pengelolaan air limbah yang aman, serta penguatan kapasitas pengelola pesantren agar mampu melakukan pemeliharaan sarana secara berkelanjutan.

Menko Muhaimin berharap kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat terwujudnya pesantren yang sehat, layak, dan semakin berdaya.

“Pesantren telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan bangsa selama ratusan tahun. Sudah saatnya kita memastikan seluruh santri belajar dan tumbuh di lingkungan yang sehat dan manusiawi. Dari pesantren yang sehat akan lahir generasi unggul yang mampu menjadi motor pemberdayaan masyarakat Indonesia,” tutupnya.

Azizah

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments