Oleh: Wahid Ma
Kabiro Priangan Timur, Beritasuararakyatindonesia.. Com
Tasikmalaya – kamis 30/4/2026 Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali mengorbankan kedalaman dan etika, sosok Iwan Singadinata hadir sebagai bukti nyata ketangguhan profesi. Menjelang usia senja, pria yang akrab disapa Kang Iwan ini bukan sekadar jurnalis senior, melainkan penjaga nilai-nilai luhur keilmuan dan kesenian yang terpatri kuat dalam dirinya. Bagi banyak kalangan, mulai dari birokrasi hingga rekan sejawat, ia adalah representasi dedikasi yang tak lekang oleh waktu.
Cinta Iwan pada dunia tulis-menulis bukan sekadar lintasan karier, melainkan panggilan jiwa. Sejak menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Bandung, bahkan sebelumnya, ketertarikannya pada literasi sudah terlihat jelas. Tulisan-tulisannya kerap menghiasi kolom-kolom harian lokal, sebuah awal yang membuktikan bahwa bakat itu telah tumbuh sejak dini.
Meski sempat melanjutkan studi di universitas negeri hingga semester empat, jalan hidup membawanya terjun lebih cepat ke dunia kerja akibat keterbatasan ekonomi. Pengalaman bekerja di perusahaan multinasional, BLOOMS CORPORATION, hingga mendapatkan kesempatan pelatihan di luar negeri, memberikan wawasan global yang luas. Namun, magnet dunia jurnalistik ternyata jauh lebih kuat. Didorong oleh latar belakang keluarga—di mana pamanya merupakan wartawan senior di Sinar Harapan—dan kebiasaan yang terbentuk sejak remaja, Iwan akhirnya memilih kembali ke jalan yang ia cintai.
“Menulis bagi saya bukan sekadar pekerjaan, melainkan kebutuhan eksistensial. Jika sehari tidak menggoreskan pena, rasanya ada yang hilang, seperti tubuh yang kehilangan energinya. Ini adalah identitas yang harus dijaga,” ujarnya tegas.
Harmoni Logika dan Seni
Di balik ketegasannya sebagai pewarta, tersimpan jiwa seniman yang peka. Iwan bukanlah sosok asing dalam dunia musik. Ketertarikannya pada nada dimulai sejak bangku SMP, mempelajari gitar klasik hingga piano di bawah bimbingan Yamaha Foundation. Penguasaan terhadap notasi musik membuktikan kedisiplinannya dalam memahami struktur dan estetika, hal yang tak sadar juga ia terapkan dalam penulisan berita.
Ia telah menciptakan sejumlah karya, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda yang kental dengan nuansa lokal. Baginya, seni dan jurnalistik adalah dua sisi mata uang yang sama: keduanya membutuhkan ketelitian, keindahan, dan pesan yang ingin disampaikan kepada publik.
Dinamika Otonomi dan Harapan bagi Insan Pers
Sebagai pengamat sosial dan politik yang memiliki jam terbang tinggi, pandangan Iwan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya, sangat berharga. Ia menyoroti kompleksitas implementasi otonomi daerah.
Menurut analisisnya, idealnya kepala daerah memiliki kewenangan penuh dalam mengelola wilayahnya. Namun di lapangan, sering terjadi tumpang tindih kewenangan atau intervensi yang menghambat efektivitas program. “Kita sering melihat anggaran yang nilainya besar, namun ketika direalisasikan di tingkat akar rumput, dampaknya terasa minim. Tantangan ke depan adalah bagaimana meminimalisir hambatan ini agar pelayanan publik benar-benar maksimal,” tuturnya.
Menutup perbincangan, Iwan memberikan kritik sekaligus harapan bagi insan pers masa kini. Ia menyoroti fenomena maraknya media yang sering kali mengabaikan kode etik dan hak cipta, serta praktik copy-paste berita tanpa verifikasi.
“Menjadi jurnalis itu harus berdiri di atas tiga pilar: profesional, idealis, dan normatif. Fasilitas mungkin sederhana, tetapi kualitas karya harus tetap prima. Tulisan harus enak dibaca, cerdas, dan bertanggung jawab,” tegasnya.
Bagi Iwan Singadinata, perjalanan ini adalah tentang konsistensi. Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap memilih untuk berkarya, bukan hanya untuk memenuhi hasrat intelektual, tetapi juga menjadi teladan bahwa menjadi wartawan adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga dengan martabat.

