Oleh: Wahid MA
Kabiro Priangan Timur, Berita Suara Rakyat Indonesia.com
Tasikmalaya, 26 Oktober 2026 — Peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum refleksi kolektif untuk mengukuhkan kembali peran strategis santri dalam dinamika pembangunan peradaban bangsa. Sejak ikrar Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, santri telah membuktikan bahwa penuntutan ilmu di lingkungan pesantren tidak terlepas dari komitmen kebangsaan. Semangat inilah yang kembali diperteguh di Kampung Nanggerang, Desa Salawu, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan secara khidmat di lingkungan Pondok Pesantren Al-Manshuriyah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara peringatan yang berlangsung tertib dan khidmat di halaman pondok pesantren. Kegiatan ini dihadiri oleh santriwan maupun santriwati, unsur Muspika Kecamatan Salawu, Ketua MWC NU, Ketua DMI, tokoh masyarakat, serta keluarga besar Ponpes Al-Manshuriyah. Upacara ini menjadi simbol penyatuan berbagai elemen masyarakat dalam satu ikatan keimanan dan kesetiaan kepada nilai-nilai kebangsaan.
Usai upacara, dilaksanakan kegiatan mabit yang diikuti oleh santri dari berbagai lembaga pendidikan se-Kecamatan Salawu. Kegiatan ini berfungsi sebagai ruang konsolidasi silaturahmi antar-generasi muda, memperkuat jaringan ukhuwah, dan menegaskan bahwa keberagaman lembaga pendidikan tidak menjadi penghalang bagi terjalinnya kerjasama yang harmonis.
Pada hari Sabtu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan jalan santai yang diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Kegiatan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan manifestasi kehadiran santri di tengah masyarakat — menegaskan bahwa santri adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat sekitar. Puncak acara digelar pada hari Minggu dengan tradisi ngaliwet ala santri, sebuah praktik makan bersama yang sarat nilai kesetaraan dan kebersamaan, disertai penampilan seni musik gambus yang memperkuat identitas budaya keislaman yang menyejukkan.
Kegiatan ini memperoleh dukungan yang luas, tidak hanya dari warga sekitar, tetapi juga dari masyarakat luar kecamatan. Hadir di antaranya para santri, pengurus dan anggota Nahdlatul Ulama, Muslimat NU, orang tua santri, serta masyarakat umum. Kegiatan ini juga diwarnai dengan pembagian hadiah utama senilai 3 juta rupiah serta berbagai hadiah penghiburan yang disambut dengan antusiasme tinggi oleh seluruh peserta.
Salah satu aspek yang paling menonjol dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah tingginya partisipasi dan gotong royong masyarakat Kampung Nanggerang. Mulai dari penyediaan lokasi, logistik, konsumsi, hingga pengamanan, semuanya terselenggara berkat keterlibatan aktif warga secara sukarela. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan lembaga pendidikan keagamaan yang harmonis dengan lingkungan masyarakat dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam membangun kebersamaan. Sinergi antara penyelenggara dan masyarakat setempat membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu, pencapaian tujuan bersama dapat terwujud dengan sumber daya yang terbatas namun dikelola dengan niat yang tulus.
Pimpinan Ponpes Al-Manshuriyah, Drs. KH. Ridwan Fuad, MA, menyampaikan pandangannya:
“Peringatan Hari Santri Nasional ini merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap eksistensi para santri. Semoga momentum ini menjadi pendorong semangat mereka dalam menuntut ilmu, sehingga kelak mereka tidak hanya memiliki keilmuan yang memadai, tetapi juga siap menjadi penerus tradisi keilmuan para ulama yang berkontribusi bagi kemaslahatan agama, masyarakat, dan negara.”
Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Salawu, KH. Ugas Komarudin, BA, menegaskan dimensi sosial dan pengakuan terhadap keberadaan santri:
“Melalui peringatan ini, kita berharap semakin memperkuat rasa percaya diri para santri agar merasa diakui, dihargai, dan bangga atas identitas keilmuannya. Santri bukan sekadar peserta didik di lembaga pendidikan keagamaan; mereka adalah pilar moral bangsa yang keberadaannya memerlukan dukungan dan kepedulian dari seluruh komponen masyarakat.”
Ketua MWC NU Kecamatan Salawu, Muhammad Taufiqulloh, S.Ag, menekankan dimensi intelektual dan kebangsaan dari peringatan ini:
“Hari Santri Nasional memiliki makna ganda: sekaligus sebagai momen refleksi historis dan penegasan identitas kolektif. Bagi para santri, peringatan ini diharapkan mampu membangun kepercayaan diri yang utuh — bahwa pilihan mereka menempuh pendidikan di pesantren adalah langkah yang strategis dan terpuji. Semakin mereka menyadari posisi mereka dalam sejarah perjuangan umat, semakin kuat pula komitmen mereka dalam mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, santri juga memikul tanggung jawab kebangsaan untuk senantiasa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena nilai keislaman dan kebangsaan bagi kita adalah dua dimensi yang saling melengkapi. Menjaga kemurnian ajaran agama pada hakikatnya juga merupakan kontribusi dalam menjaga kedamaian dan keutuhan negara tempat kita beribadah dan beramal.”
Secara keseluruhan, peringatan Hari Santri Nasional di Ponpes Al-Manshuriyah ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia mencerminkan keberlanjutan nilai-nilai kesantrian sebagai fondasi moral bangsa, sekaligus memperteguh hubungan simbiotik antara pesantren dan masyarakat. Semangat kebersamaan yang terjalin di sini adalah warisan yang terus diperjuangkan — dari generasi ke generasi — sebagai kekuatan yang tak tergoyahkan dalam menjaga keutuhan umat dan bangsa.*s’moga*

