Beritasuararakyatindonesia.com – SORONG – Fornt Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (FNMPP) bersama para mahasiswa dan pemuda di Kota Sorong resmi menyerahkan bantuan hasil aksi penggalangan dana kemanusiaan kepada pihak pendamping tiga korban warga sipil dugaan penembakan di kampung Ainot distrik Aifat Tengah, kabupaten Maybrat Papua Barat Daya, pada Kamis (1/10/2026).
Aksi galang dana yang diinisiasi oleh Front Nasional mahasiswa pemuda Papua (FNMPP) ini telah berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak 28 hingga 30 September 2026 di kawasan lampu merah Ellin Maranatha kota Sorong.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian atas insiden penembakan yang menimpa tiga warga Maybrat pada 13 Agustus 2026 lalu.
Koordinator Aksi Penggalangan Dana FNMPP, Jendre Mandowen, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada seluruh warga Kota Sorong yang telah menyisihkan rezeki untuk membantu para korban.
“Atas nama presidium FNMPP, teman-teman mahasiswa, dan pemuda yang terlibat, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada masyarakat Kota Sorong yang sudah membantu meringankan beban saudara-saudara kita melalui uluran tangan ini. Ini adalah bentuk kepedulian nyata kita terhadap korban,” ujar Jendre saat penyerahan bantuan secara langsung kepada pendamping korban.
Jendre berharap dana bantuan yang terkumpul dapat bermanfaat untuk menunjang kebutuhan operasional pengobatan serta mempercepat masa pemulihan para korban.
Selain penggalangan dana, FNMPP menegaskan bahwa aksi di jalanan ini juga menjadi wadah konsolidasi moral untuk mengajak seluruh elemen masyarakat Papua bersama-sama mengawal penanganan hukum kasus penembakan ini. “Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus solid mengawal kasus ini hingga para korban mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Kami mendesak pihak Kapolda dan jajaran kepolisian yang berwenang agar segera mengusut tuntas, menetapkan tersangka, dan memproses hukum pihak-pihak yang terlibat sesuai prosedur hukum yang berlaku,” tegasnya.
Penembakan Tiga Korban di Maybrat Pendamping dan Aktivis Desak Polda PBD Segera Ungkap Pelaku
Penanganan kasus Dugaan penembakan yang menimpa tiga orang korban di kabupaten Maybrat Papua Barat Daya kini memasuki masa kritis. Memasuki waktu lebih dari satu bulan sejak peristiwa penembakan pada 13 Agustus lalu, penanganan perkara dinilai masih berjalan lambat dan belum menunjukkan kepastian hukum. Pihak pendamping korban beserta jaringan aktivis setempat mendesak aparat kepolisian, khususnya Kapolda Papua Barat Daya, untuk bertindak sesuai
kewenangan segera mengumumkan para pelaku ke publik agar kasus ini tidak berlarut-larut. Pendamping tiga korban warga sipil Maybrat Lami Faan, Seusai menerima bantuan Mengatakan, Isu penembakan ini sempat meredup di tengah masyarakat. Namun, gelombang penggalangan dana dan aksi solidaritas yang diinisiasi oleh rekan-rekan aktivis FNMPP di Manokwari dan Sorong berhasil mencuatkan kembali perhatian publik terhadap penderitaan para korban.
“Selain mengumpulkan bantuan finansial, gerakan ini menjadi pengingat untuk menjaga agar isu penembakan tiga warga sipil di Maybrat terus terkawal secara serius,” katanya.
Di sisi lain, kondisi kesehatan ketiga korban hingga saat ini masih memerlukan penanganan medis yang intensif. Pendamping korban Lami Faan mengungkapkan bahwa proses pemulihan fisik para korban belum sepenuhnya selesai.
Salah satu korban wanita, Mama Anike, yang mengalami luka tembak di area telinga, masih membutuhkan perawatan dari dokter spesialis THT. Sementara itu, korban pria bernama Silvester harus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit setiap minggu. Bahkan, satu korban lainnya diperkirakan harus menjalani operasi ketiga karena luka parah yang dialaminya belum bisa menutup dengan sempurna.
Lami Faan, menyampaikan, Melihat proses hukum yang masih berada pada tahap penyidikan, para pendamping bersama penasihat hukum terus secara rutin mendampingi korban saat menjalani pengobatan dan perawatan rutin.
Mengingat besarnya dampak fisik dan psikologis yang dialami para korban, ia menegaskan bahwa tanggung jawab moral untuk menjaga keselamatan serta pemulihan korban harus menjadi perhatian bersama seluruh elemen masyarakat.
“Oleh karena itu, para aktivis, pihak gereja, serta elemen masyarakat di wilayah Sorong Raya diperlukan kolaborasi dan desakan kepada aparat penegak hukum Kepolisian diharapkan tidak lagi mengulur-ulur waktu dan segera menuntaskan penyidikan secara transparan demi menghadirkan keadilan bagi para korban dan keluarga,” Katanya Faan. (*)Penulis Eskop Wisabla.

