Oleh : Sam Permana MT. (Engko) – Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, tantangan terhadap akhlak dan kebersihan hati semakin terasa. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan, tetapi di sisi lain juga dapat membuat manusia terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hingga lupa melakukan perbaikan terhadap dirinya sendiri.
Kitab Al-Hikam mengajarkan bahwa hati memiliki peranan penting dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang. Apa yang tumbuh di dalam hati pada akhirnya akan tercermin melalui ucapan, tindakan, dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Ketika hati dipenuhi keikhlasan, kesabaran, rasa syukur, dan tawakal kepada Allah, maka akhlak yang lahir pun diharapkan menjadi lebih baik.
Pesan tersebut terasa semakin relevan pada masa sekarang. Di tengah kehidupan yang sangat dekat dengan media sosial, terkadang citra di hadapan publik lebih banyak diperhatikan daripada karakter dalam kehidupan nyata. Seseorang bisa terlihat baik di hadapan banyak orang, tetapi ukuran sebenarnya dari akhlak bukan sekadar apa yang ditampilkan, melainkan bagaimana seseorang bersikap ketika tidak sedang diperhatikan.
Akhlak yang baik juga bukan berarti kehidupan tanpa masalah. Justru akhlak terlihat ketika seseorang menghadapi ujian, kekecewaan, maupun kesulitan. Kesabaran ketika menghadapi cobaan, rasa syukur ketika mendapatkan nikmat, serta tawakal setelah berusaha merupakan bagian penting dalam membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah kehilangan arah.
Dalam hubungan dengan sesama, akhlak juga tercermin dari hal-hal sederhana. Menjaga lisan agar tidak menyakiti, menghormati orang lain, senang membantu, tidak mudah menuduh, serta menghindari prasangka buruk merupakan bentuk nyata dari kebersihan hati. Hal-hal sederhana tersebut sering kali justru menjadi ukuran penting dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut saya, mempelajari Kitab Al-Hikam bukan hanya penting bagi kalangan santri atau ulama. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga sangat relevan bagi generasi muda yang sedang mencari arah kehidupan dan berusaha membangun karakter yang kokoh di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, perubahan besar dalam kehidupan sering kali bermula dari perubahan kecil di dalam hati. Ketika seseorang mulai memperbaiki niat, menjaga hati, dan memperbaiki akhlaknya, perubahan itu perlahan akan terlihat dalam ucapan dan perbuatannya.
Karena itu, menjaga kebersihan hati bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi juga bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Jika hati dijaga dengan keikhlasan, kesabaran, syukur, dan tawakal, maka akhlak akan ikut membaik. Dari hati yang baik itulah, kehidupan dapat menjadi lebih teduh, harmonis, dan bermakna.**

